Ketika membicarakan tentang “polisi”, tentunya tidak bisa lepas dari stigma negatif dari sebagian besar masyarakat. Masyarakat memiliki opini bahwa sosok polisi “sangatlah menakutkan” dan tidak memiliki karakteristik yang humanis, aku secara pribadi tidak pernah tahu alasan kenapa stigma ini bisa masuk secara dalam di benak masyarakat.

Bahkan kalau kalian menyadari secara detail, kebanyakan orang tua secara tidak sadar mengajak anaknya untuk memiliki persepsi bahwa polisi merupakan “sosok yang menakutkan”. Ketika ada polisi, para orang tua selalu menakut-nakuti anaknya dengan cara “awas ada polisi, jangan kesana, nanti kamu ditangkap sama pak polisinya”.

Sesungguhnya tindakan seperti ini “sangat salah dilakukan oleh para orang tua”, mereka seolah-olah mengajarkan anak-anaknya untuk membenci sosok polisi. Cerita mulut ke mulut terkait “stigma negatif polisi” harus diatasi agar tidak membuat masyarakat salah persepsi terkait polisi. Jika semua masyarakat memiliki persepsi negatif tentang polisi, lalu bagaimana cara polisi untuk menjalankan tugasnya ?.

Padahal kita tahu bahwa tugas utama polisi adalah menjaga keamanan seluruh masyarakat. Polisi adalah lembaga yang memiliki tugas untuk menjaga ketertiban, keamanan dan penegakan hukum di seluruh wilayah Negara. Dalam rangka menjalankan tugas dengan baik, perlu adanya kepercayaan antara kedua belah pihak. Tanpa adanya “kepercayaan”, polisi akan kesulitan dalam menjalankan tugasnya dengan baik.

Polisi Merupakan Pekerjaan Mulia dan Banyak Didambakan

Aku masih mengingat jelas ketika masa kanak-kanak, ditanyai oleh guru terkait “cita-cita”, mayoritas dari kita akan menjawab ingin menjadi seorang polisi. Selain itu, aku juga mengingat ketika menjalankan permainan “polisi dan pencuri”, kita akan lebih bangga ketika menjalankan peran sebagai seorang polisi dibandingkan menjadi soerang pencuri.

Hal ini tentunya sudah menjadi bukti bahwa polisi merupakan pekerjaan yang didambakan oleh sebagian besar masyarakat. Pahami bahwa polisi merupakan pekerjaan yang sangat mulia, menjadi polisi berarti kita menjalankan tugas untuk “melindungi, mengayomi dan melayani” masyarakat. Pekerjaan yang berkaitan dengan jaminan keamanan masyarakat sesungguhnya adalah pekerjaan yang sangat mulia.

Aku pernah berdiskusi dengan temanku yang memiliki cita-cita untuk menjadi seorang polisi. Dia sekarang sudah menjadi seorang polisi, meskipun gagal tes berkali-kali, namun dia tidak pernah menyerah dan pada akhirnya dapat menggapai cita-citanya untuk menjadi seorang polisi. Dia pernah menyampaikan pesan kepadaku bahwa “polisi merupakan cita-cita yang harus diwujudkan dan akan sangat membanggakan jika nantinya cita-cita ini bisa benar-benar terwujud”.  

Sesungguhnya Totalitas Polisi Kepada Negara Sangatlah Penting

Polisi merupakan pekerjaan yang mulia dan sangat didambakan oleh sebagian besar masyarakat. Tentunya kita akan benar-benar merasa bangga jika mendapatkan kesempatan menjadi seorang polisi. Polisi merupakan Abdi Negara, tentunya sudah sepantasnya dan wajib hukumnya bagi seorang polisi memberikan segenap jiwa dan raganya untuk Negara. Menjadi seorang polisi harus bisa bersikap profesional dalam menjalankan pekerjaannya.

Aku memiliki persepsi bahwa kehadiran seorang polisi sebenarnya sangatlah penting. Masyarakat benar-benar membutuhkan kehadiran polisi, tanpa adanya polisi keadilan dan kenyamanan masyarakat akan sulit untuk dicapai. Polisi memiliki peran untuk mengamankan kehidupan masyarakat dan mencegah terjadinya kasus kriminal yang berisiko dialami oleh masyarakat.

Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwa sangatlah penting “totalitas polisi kepada Negara”. Jangan sampai kita semena-mena karena memiliki jabatan menjadi seorang polisi dan lalai dengan tugas dan tanggungjawab utama yang dimiliki oleh polisi. Ketika polisi dapat menjalankan perannya dengan baik, kesenjangan antara polisi dan masyarakat tidak akan terjadi. Polisi akan mendapatkan kepercayaan dan rasa hormat dari seluruh masyarakat Negara Indonesia.

Stigma Negatif Tentang Polisi Harus Segera Untuk Dihapuskan

Ketika membicarakan tentang polisi, sesungguhnya persepsi negatif sangat sulit untuk bisa dilepaskan begitu saja. Rasanya masyarakat Indonesia banyak yang kecewa akibat beberapa oknum polisi tidak bekerja sesuai dengan yang diharapkan. Mereka bekerja demi keuntungan pribadi, bukan untuk keuntungan masyarakat.

Berdasarkan informasi yang aku dapatkan, sebagian warga sangat sulit untuk melupakan stigma polisi yang mudah sekali untuk disuap. Hal ini berlandaskan alasan bahwa terdapat beberapa pengalaman mereka saat menemui polisi yang bertindak nakal saat bertugas. Beberapa kali masyarakat harus berhadapan dengan polisi yang meminta uang untuk membebaskan sanksi yang mereka dapatkan (kompas.id,2020).

Menurutku secara pribadi, stigma ini semua mulai terbentuk pada era orde baru. Bukan bermaksud membela polisi, sesungguhnya banyak polisi yang berusaha secara maksimal untuk memperbaiki stigma ini. Namun masyarakat seolah-olah sangat sulit untuk percaya kepada polisi, mereka sudah terlanjur dikecewakan oleh beberapa oknum polisi.   

Sejalan dengan pendapat yang aku utarakan sebelumnya, Komisioner Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas), Poengky Indarti juga menyatakan bahwa “persepsi tentang polisi yang mudah disuap adalah stigma yang telah terbentuk sejak era Orde Baru. Upaya memperbaiki stigma ini sangatlah sulit karena praktek kecurangan masih dilakukan oleh beberapa oknum” (Kompas.id, 2020).

Disini aku ingin menyampaikan pendapat bahwa memang perbaikan stigma ini tidaklah mudah, namun jika dilakukan perbaikan secara “konsisten dan berkesinambungan” dan semua pihak kepolisian ikut terlibat. Tujuan perbaikan pasti akan terwujud, stigma negatif masyarakat tentang polisi perlahan-lahan menjadi hilang dan hubungan polisi dengan masyarakat akan berjalan dengan lebih baik.

Tunjukkan Kepada Masyarakat Bahwa Polisi Memiliki Sisi Humanis

Cara untuk memperbaiki stigma negatif dan memperbaiki hubungan polisi dengan masyarakat adalah “dengan menunjukkan kepada masyarakat bahwa polisi memiliki sisi humanis”. Humanis yang dimaksud adalah menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia yang dimiliki oleh masih-masih individu. Sisi humanis sangat bermanfaat karena mampu menghargai pendapat orang lain dan tidak bertindak sesuka hati kepada orang lain.

Sesungguhnya aku sangat mendukung program yang dijalankan pihak kepolisian terkait “polisi yang humanis”. Polisi yang dulunya dianggap tidak peduli dengan masyarakat, menjadi polisi yang dapat mengayomi masyarakat dengan baik. Sikap humanis yang bisa ditunjukkan oleh anggota polisi adalah tidak bersikap emosional dalam menghadapi masyarakat.

Program ini memang mengedepankan peran polisi yang humanis kepada masyarakat, namun tetap tegas secara profesional dan berkeadilan untuk mewujudkan keamanan dan kenyamanan masyarakat. Saat ini pihak kepolisian benar-benar berupaya untuk menciptakan “keberadaan mereka” yang dapat dirasakan oleh semua masyarakat. Polisi seakan-akan memenuhi kewajiban mereka untuk menciptakan rasa aman dan nyaman dari masyarakat.

Paradigma polisi yang humanis harus dapat diterima oleh masyarakat dengan baik, masyarakat harus bisa paham betul terkait perubahan paradigma polisi yang baru yaitu humanis. Jajaran kepolisan mengupayakan sistem kerja yang berorientasi kepada pemecahan masalah dengan cara lebih dekat dengan masyarakat dan tentunya lebih manusiawi.

Aku masih mengingat betul kata-kata dari Sir Robert Mark yang menyatakan bahwa di era modern saat ini, senjata utama polisi bukan lagi water canon, gas air mata, peluru karet ataupun pistol. Senjata utama polisi saat ini adalah simpati dari seluruh masyarakat. Ketika ingin mendapatkan simpati dari seluruh masyarakat, polisi harus bisa bersikap humanis di berbagai lini kehidupan sosial masyarakat.

Pahami Dengan Baik Hubungan Polisi Dengan Masyarakat

Kita sebagai masyarakat ataupun sebagai seorang polisi harus memiliki pemahaman yang baik terkait “hubungan polisi dengan masyarakat”. Jangan sampai kita semua memiliki persepsi bahwa polisi dan masyarakat tidak perlu memiliki hubungan yang baik. Jika persepsi seperti ini tetap dijaga, cita-cita menjadi Negara yang adil dan menegakkan hukum yang kuat tidak bisa berjalan dengan baik.

Hubungan polisi dengan masyarakat harus berjalan dengan baik, semua pihak harus memahami posisi masing-masing. Jangan sampai ada pihak yang merugikan dan pihak yang merasa dirugikan. Coba kita melihat jika tidak ada perasaan benci antara satu pihak kepada pihak lainnya, kita akan melihat pemandangan yang menyenangkan. Pihak polisi dan masyarakat saling percaya dan bekerjasama untuk menjaga kedamaian Negara Indonesia tercinta. Parsudi Suparlan memiliki pendapat bahwa hubungan polisi dengan masyarakat terbagi menjadi tiga katagori yaitu :

1. Posisi Seimbang atau Setara, disini dapat dikatakan bahwa polisi dan masyarakat menjadi rekan yang saling membantu satu sama lain untuk mencoba menyelesaikan masalah sosial yang terjadi pada masyarakat.

2. Posisi Polisi yang menganggap bahwa masyarakat adalah atasan, disini polisi memiliki kewajiban untuk memberikan kebutuhan rasa aman kepada seluruh masyarakat. Polisi harus memiliki pemahaman yang baik dan berupaya untuk memenuhi segala kebutuhan dari masyarakat terkait rasa aman.

3. Posisi Polisi sebagai pelindung dan pengayom masyarakat, disini polisi memiliki kewajiban untuk dapat melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat dengan baik. Polisi wajib untuk menegakkan hukum seadil-adilnya dan dapat dipercaya. Polisi harus dapat bekerja secara profesional sesuai dengan tugas dan tanggungjawab.

Contoh Nyata Bahwa Polisi Memang Telah Mengimplementasikan Sisi Humanis

Pastinya saat ini kalian bertanya-tanya, “apakah benar bahwa polisi telah mengimplementasikan sisi humanis kepada masyarakat ?”. Sesungguhnya aku merasa bahwa hal ini adalah benar. Polisi memang melakukan perbaikan terkait pelayanan kepada masyarakat, polisi saat ini benar-benar mengayomi masyarakat dengan baik. Tak hayal bahwa kedekatan polisi dengan masyarakat bisa berjalan dengan baik.

Kalian pasti saat ini tidak percaya dengan apa yang telah aku utarakan dan membutuhkan bukti nyata. Teruntuk teman-teman yang membutuhkan bukti nyata, tenang saja karena disini aku akan menunjukkan bukti nyata kepada kalian semua. Aku akan menunjukkan salah satu aparat kepolisian yang benar-benar menunjukkan sisi humanisnya kepada masyarakat.

Beliau bernama Herman Babin (Bripka Herman Hadi Basuki) yang bertugas di Sub Bagian Humas Polres Purworejo, Polda Jawa Tengah. Selain bertugas menjadi seorang Polisi, beliau juga aktif menjadi seorang youtuber dengan akun Polisi Motret. Sesungguhnya konten yang beliau miliki telah menunjukkan bahwa polisi memang benar-benar memiliki sisi humanis kepada masyarakat.

Konten ini berisi tentang cerita seorang polisi yang lucu, menghibur tetapi memberikan pesan moral yang besar kepada masyarakat. Dalam konten ini menunjukkan fakta bahwa polisi bisa sangat dekat dengan masyarakat. Hubungan polisi dan masyarakat berjalan dengan sangat baik dan kedua pihak bisa saling percaya. Melihat hal ini, sudah menjadi bukti bahwa polisi memang benar-benar memiliki sisi humanis yang diimpikan dan diharapkan oleh masyarakat.

Apa Saja Karakteristik Polisi yang Diimpikan dan Diharapkan Masyarakat ?

Ketika ditanya “apa saja karakteristik polisi yang diimpikan dan diharapkan oleh masyarakat ?”. Aku bisa mengatakan sangatlah banyak, masyarakat memiliki harapan bahwa secara nyata karakteristik polisi dapat sesuai dengan apa yang mereka harapkan. Disini aku ingin menjadi perwakilan masyarakat untuk menunjukkan karakteristik polisi yang diimpikan dan diharapkan.

Semoga saja informasi yang aku berikan dapat bermanfaat dan dapat menjadi masukan kepada pihak kepolisian agar bisa menjadi lebih baik lagi. Aku sangat berharap bahwa stigma negatif polisi bisa menghilang di masyarakat. Aku sangat ingin melihat semua pihak, baik polisi maupun masyarakat memiliki kedekatan yang tinggi. Tidak perlu menunggu waktu lama-lama, karakteristik polisi yang diharapkan dan didambakan antara lain adalah :

1. Prediktif, polisi harus bisa membaca keadaan yang mungkin akan terjadi dimasa depan. Polisi harus berupaya mencegah kejatahan melalui analisa melalui kejahatan yang pernah terjadi sebelumnya. Dengan sikap prediktif akan bermanfaat dalam mencegah potensi-potensi yang dapat menganggu keamanan Negara.

2. Memiliki Jiwa Empati, polisi harus bisa merasakan keadaan emosional masyarakat yang mengalami permasalahan. Polisi harus bisa memiliki perasaan simpatik dan berupaya secara maksimal untuk membantu menyelesaikan permasalahan yang dihadapi oleh masyarakat.

3. Melayani Masyarakat Dengan Baik, Polisi harus bisa memberikan pelayanan kepada masyarakat secara maksimal dan tentunya memuaskan. Jangan sampai polisi dalam memberikan pelayanan secara asal-asalan dan dapat merugikan masyarakat. Polisi memiliki kewajiban dalam memberikan pelayanan harus mengetahui kebutuhan masyarakat dengan baik.

4. Mampu Mengendalikan Emosi, polisi harus memiliki sikap mampu untuk mengendalikan emosi dalam melayani masyarakat. Karakteristik masyarakat yang perlu untuk mereka layani memang berbeda-beda, ada yang bersikap baik dan tidak. Disini polisi harus bisa mengendalikan emosi (tidak bersikap arogan) dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat.

5. Mandiri, polisi harus bisa mandiri dalam menjalankan tugas, mereka harus bisa bekerja secara individu dan tim. Jangan sampai tugas yang harus dikerjakan secara mandiri, namun mereka tidak bisa mengerjakannya secara mandiri dan bergantung kepada orang lain (masyarakat).

6. Profesional, sikap profesional sangat penting untuk dimiliki oleh seorang polisi. Semua polisi harus bisa bekerja secara profesional, bekerja sesuai dengan pedoman kerja. Tidak boleh seorang polisi bekerja sesuai dengan kehendak mereka pribadi tanpa memperdulikan pedoman kerja.

7. Menegakkan Hukum, sebagai seorang polisi tentunya memiliki kewajiban untuk bisa menegakkan hukum. Negara Indonesia adalah Negara hukum, apapun tindakan yang dilakukan berlandaskan dengan hukum. Melihat hal ini, tentunya polisi memiliki kewajiban untuk bisa menegakkan hukum dengan baik.

8. Menjunjung Hak Asasi Manusia, polisi memiliki kewajiban untuk menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia seluruh masyarakat Indonesia. Polisi tidak boleh bertindak semena-mena kepada masyarakat apalagi sampai menyakiti masyarakat. Polisi dalam menjalankan tugasnya harus berpedoman pada “menjunjung tinggi Hak Asasi Manusia”.

9. Transparan, polisi dalam menjalankan tugas kerja harus bisa transparan kepada masyarakat. Polisi wajib terbuka kepada masyarakat terkait kinerjanya, jangan sampai dalam menjalankan tugas kerja, polisi seolah-olah tertutup kepada masyarakat.

10. Berorientasi Pada Masyarakat, dalam menjalankan tugasnya polisi harus berorientasi pada masyarakat. Polisi dalam menjalankan tugas dan mengambil tindakan harus berorientasi pada kepentingan masyarakat. Jangan sampai kepentingan pribadi lebih diprioritaskan dibandingkan dengan kepentingan masyarakat.

11. Tidak Bersikap Diskriminatif, polisi harus bisa responsif dan adil dalam bersikap. Jangan sampai dalam menjalankan tugas apapun, polisi bersikap secara diskriminatif. Polisi tidak boleh menguntungkan beberapa pihak saja, polisi harus bisa bersikap adil kepada semua pihak.

12. Demokratis, sesungguhnya demokratis sangatlah penting dalam kehidupan saat ini. Disini aku ingin mengatakan bahwa segala bentuk tugas yang dijalankan polisi harus mencerminkan pemahaman yang mendalam atas nilai-nilai demokratis.

13. Akuntanbilitas, polisi dalam menjalankan segala tugasnya memiliki kewajiban untuk bisa mempertanggungjawabkan kepada masyarakat. Jangan sampai dalam menjalankan tugas, ada beberapa tugas yang tidak bisa untuk dipertanggungjawabkan kepada masyarakat.

14. Tidak Melakukan Kecurangan, polisi yang baik adalah polisi yang tidak pernah melakukan kecurangan dalam menjalankan tugasnya. Polisi yang jujur, tidak pernah menerima suap dari pihak lain, tidak pernah melakukan tindak kejahatan korupsi, tidak pernah kolusi maupun nepotisme.

Mari Bersama Membantu Mewujudkan Citra Polisi yang Humanis

Tidak terasa kita sudah dipenghujung cerita, disini aku ingin memberikan pesan terakhir kepada kalian semua teman-teman. Kita sebagai masyarakat harus bisa membantu mewujudkan citra polisi menjadi lebih baik. Jangan sampai kita malah menambah keruh suasana dengan masih memiliki stigma negatif tentang polisi. Ingatlah bahwa polisi telah melakukan perbaikan secara maksimal, jadi kita memiliki kewajiban untuk mendukung perubahan ini.

Yuk untuk memperingati “HUT Bhayangkara Polri ke-75”, kita mendukung polisi untuk mewujudkan sisi humanisnya kepada masyarakat. Aku berharap semua pihak kepolisian bisa mengimplementasikan sisi humanis kepada masyarakat. Ketahuilah bahwa tanpa polisi, keadilan dan keamanan kita sebagai masyarakat tidak akan pernah bisa terjaga dengan baik. Mari bersama-sama mewujudkan “Polri Presisi” yaitu prediktif, responsibilitas dan transparansi keadilan.

Tulisan Ini Diikutsertakan Dalam Blog Competition “ POLRI 2021 HUT BHAYANGKARA KE 75” yang Diselenggarakan Oleh POLRI

Referensi :

Kompas.id, Sebagian Kaum Muda Sulit Melupakan Stigma Polisi yang Mudah Disuap, Diakses pada tanggal 18 Juni 2021, https://www.kompas.id/baca/polhuk/2020/07/01/sebagian-kaum-muda-sulit-melupakan-stigma-polisi-yang-mudah-disuap?status_login=login

Divisi Humas Polri, Facebook Divisi Humas Polri, Diakses pada tanggal 18 Juni 2021, https://www.facebook.com/DivHumasPolri/posts/polisi-yang-humanisparadigma-baru-yang-sedang-dikembangkan-polri-saat-ini-berori/791164287579096/